Asal Suatu Perbuatan adalah Terikat dengan Hukum Syara’, Bukan Mubah atau Haram
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh....
*Asal Suatu Perbuatan adalah Terikat dengan Hukum Syara’, Bukan Mubah atau Haram*
1. *Definisi Mubah dan Al-Ibâhah*
Mubah adalah sesuatu yang ditunjukkan oleh dalil *sam'iyy* (dalil naqli) untuk memberikan pilihan kepada mukallaf antara mengerjakan atau meninggalkannya tanpa ada konsekuensi (hukuman atau pahala). Dengan kata lain, mubah adalah pilihan secara syar'i.
Al-Ibâhah (kebolehan). Adalah salah satu hukum syara', sehingga adanya mubah atau kebolehan tersebut memerlukan dalil syar'i yang menunjukkannya. Selama dalil yang menunjukkan kebolehan itu tidak ada, maka hukum syara' kebolehan itu juga tidak ada.
2. *Status Perbuatan Sebelum Datangnya Dalil Syara'*
Untuk mengetahui hukum Allah terhadap suatu perbuatan, diperlukan dalil syar'i. Tiadanya dalil syar'i tidak serta-merta menunjukkan bahwa perbuatan tersebut berstatus mubah.
* Tiadanya dalil syar'i berarti tiadanya hukum syara' bagi perbuatan tersebut. Penetapan hukum (apakah mubah, fardhu, makruh, atau haram) harus senantiasa didasarkan pada adanya dalil *sam'iyy* tentang hukum tersebut.
* Oleh karena itu, tidak ada hukum bagi orang-orang yang berakal sebelum datangnya syara' (*al-aslu qabla wurûdis-syar’i an-nafyu*).
3. *Kewajiban Mukallaf Mencari Dalil*
Setiap Muslim (mukallaf) wajib memperhatikan dan mengetahui hukum Allah atas setiap perbuatan yang akan dilakukannya sebelum ia melakukannya. Status perbuatan tersebut pasti terikat pada salah satu dari hukum yang lima (*al-ahkam al-khamsah*): **wajib, mandub, haram, makruh, atau mubah**.
- Dasar kewajiban mencari tahu hukum sebelum berbuat ini diperkuat oleh firman Allah SWT:
- “Maka demi Rabb-mu, pasti Kami akan menanyakan (menghisab) mereka semua tentang apa yang mereka kerjakan dahulu.”* (QS al-Hijr [15]: 92-93).
* *“Kami tidak berada dalam suatu keadaan dan tidak membaca suatu ayat al-Quran dan kamu tidak mengerjakan suatu pekerjaan melainkan Kami menjadi saksi atasmu di waktu kamu melakukannya...”* (QS Yunus [10]: 61).
Sabda Rasulullah SAW juga menegaskan hal ini: *“Barang siapa yang melakukan suatu perbuatan yang tidak didasarkan perintah kami, maka ditolak.”*
4. *Sikap dan Kebiasaan Para Sahabat**
Para sahabat *radhiallahu 'anhum* senantiasa bertanya kepada Rasulullah SAW mengenai tindakan mereka sebelum melakukannya guna mengetahui hukum Allah di dalamnya. Contohnya:
- Ibnu al-Mubarak meriwayatkan bahwa Utsman bin Mazh'un meminta izin untuk melakukan *ikhtisya'* (kebiri) demi mengendalikan syahwat agar fokus beribadah, namun Nabi SAW melarangnya.
- Ketika bertanya tentang perjalanan (melancong), Nabi menjelaskan bahwa jihad umatnya adalah *jihad fi sabilillah*. Saat bertanya tentang bertapa, Nabi menjelaskan bertapa umatnya adalah duduk menunggu shalat di dalam masjid.
- Hal ini menunjukkan para sahabat tidak langsung menganggap suatu perbuatan sebagai 'mubah' begitu saja, melainkan bertanya terlebih dahulu.
5. *Kedudukan Diamnya As-Syari' (*Al-Sukût*)**
* Diamnya *al-Syari'* (Allah dan Rasul-Nya) terhadap suatu perbuatan yang dilakukan manusia, sementara hal tersebut diketahui oleh beliau, merupakan bentuk dalil atas kebolehan (*al-ibâhah*) perbuatan tersebut secara mutlak.
* Sikap diam ini diakui sebagai dalil atas kebolehan karena perbuatan tersebut dilakukan di hadapan beliau atau sepengetahuan beliau, baik di dalam wilayah kekuasaan beliau maupun di luar wilayah kekuasaan yang dilaporkan kepada beliau.
* **Contoh Kasus Diamnya Rasulullah (Dalil Kebolehan):**
* Praktek *'azl* (menumpahkan air mani di luar rahim): Sahabat Jabir bin Abdullah berkata: *“Kami dahulu melakukan 'azl sedangkan al-Quran masih turun.”* Artinya, hal itu diketahui dan tidak dilarang.
* Memakan daging *dhabb* (sejenis biawak padang pasir): Daging *dhabb* dimakan di atas meja makan Rasulullah SAW. Andaikan itu haram, niscaya tidak akan dibiarkan dimakan di hadapan beliau.
**Kesimpulan Utama:**
Asal dari semua perbuatan manusia adalah memiliki hukum syara' yang wajib dicari dari dalil syar'i sebelum dikerjakan. Penetapan hukum atas suatu perbuatan (apakah mubah, fardhu, mandub, haram, atau makruh) sepenuhnya bergantung pada pengetahuan tentang dalil syar'i yang menunjukkannya, baik dari Al-Quran, Al-Sunnah, Al-Ijma', maupun Al-Qiyas.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
R. Rizky Noor Natawijaya